A propos de ce blog

Nom du blog :
anakkampongkong
Description du blog :

Catégorie :
Blog Rencontres
Date de création :
05.02.2012
Dernière mise à jour :
06.02.2012

RSS

Navigation

Accueil
Gérer mon blog
Créer un blog
Livre d'or anakkampongkong
Contactez-moi !
Faites passer mon Blog !

Statistiques 4 articles


Thèmes

merci

Derniers commentaires
  RSS
Recherche

Brussel, the capital of Europe

Brussel, the capital of Europe

Publié le 06/02/2012 à 09:19 par anakkampongkong Tags : merci
Brussel, the capital of Europe

Suasana sore yang dingin di kota Cologne, Jerman terlihat mulai gelap. Sang malam pun segera tiba, karena suasana musim dingin yang semakin memperpendek waktu siang hari. Suasana jalanan yang begitu menggigil dengan hamparan salju bak serutan es yang membalut hampir setiap sudut jalan sama sekali tak menyurutkan ramainya pengunjung Marché de Noël (pasar natal) yang menjajakan makanan ringan dengan hiasan-hiasan cantik khas natal. Kami berlima pun bergegas menuju ruang tunggu di stasiun kereta yang sangat gaduh oleh suara para calon penumpang yang entah dari mana mereka berasal. Setengah jam lagi kereta TGV (kereta cepat) segera tiba dan kami akan berangkat dengan tujuan kota Brussel, Belgia. Kami semakin panik karena hampir 20 menit mondar-mandir mencari tempat untuk meng-composte tiket tak kunjung ketemu. Setelah bertanya sana-sini kami pun ditunjukkan sebuah kotak untuk composte tiket dengan ukuran yg sangat kecil. Tentu saja kotak mungil ini bukan untuk validasi tiket kereta TGV. Semakin bingunglah kami, mungkin karena dengan kebiasaan aturan di Prancis yang mewajibkan setiap penumpang harus memvalidasi tiketnya sebelum naik ke kendaraan umum. Adalah sangsi yang sangat berat jika hal ini tidak dipenuhi membuat kami semakin gelisah. Akhirnya kucoba untuk menanyakannya kepada penumpang lainnya yang juga kebetulan berasal dari Prancis, dan ternyata jawabannya adalah « di sini tak ada aturan seperti di Prancis , semua tiket akan dikontrol oleh para petugas saat kita berada di dalam kereta….oh ya ?!!! ! »


Kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya kamipun tiba di stasiun Brussel Midi, kota Brussel. Di sana kami telah dijemput oleh salah satu teman kami pelajar Indonesia yang baik hati dan tidak sombong (huehehe...). Kang Dicky (ketua PPI Brussel, makasih kang dicky…!), begitulah nama pemuda sunda yang berkarakter hangat ini. Kami berlima pun segera diboyong menuju residen tempat di mana si dicky dan rekan-rekan Indonesia lainnya bermarkas. Sisa-sisa salju tebal yang masih menutupi jalanan kota Brussel pun ditembus dengan mudah oleh kami berenam. Tak terasa tubuh bagian bawah kamipun basah kuyup dengan ransel di punggung. Dengan tubuh yang sedikit letih, kamipun tiba di kamar Dicky, sedangkan dua teman cewek lainnya menginap di kamar Chyntia yang juga pelajar Indo (makasih Chyntia…!). Makan malam yang lengkap dengan ikan asin dan sambel terasi khas Indo pun telah tersedia…mmmmh….yummy ! betapa baiknya teman-teman PPI Brussel ini (merci beaucoup ya ! ).


Setelah melepaskan penat dengan tidur semalam, kamipun memulai penjelajahan kami menelusuri kota Brussel sekitar pukul 08.00 pagi. Meskipun nuansa Prancis begitu kental terasa di kota ini, suasana tata kota dan kebersihan lingkungan sangat jauh berbeda dengan kota-kota besar di Prancis seperti Paris dan Marseille. Secara kasat mata, bisa kukatakan bahwa kota Brussel jauh lebih bersih dan rapi. Orang-orangnya pun jauh lebih "terbuka" dibandingkan orang Prancis, karena siapapun mereka, mulai dari penjaga toilet sampai Pak Polisi semuanya bisa berbahasa asing seperti Inggris dan Belanda. Hal ini sangat nyaman bagi para touris yang datang dari berbagai belahan dunia. Tak heran jika, kota Brussel mendapat julukan ibu kota Eropa. Selain markas besar Uni Eropa, masih terdapat puluhan Institusi International serta ratusan NGO bertengger di kota ini.


Negara ini diliputi permasalahan politik semenjak bertahun-tahun karena warga Brussel yang memegang teguh tradisi dan budaya prancis diapit oleh dua kaum masing-masing Flemish di utara dan Wallon di selatan. Masing-masing etnik memiliki pandangan yang berbeda terhadap aspek sosial dan budaya membuat permasalahan semakin sulit dipecahkan. Keberadaannya di jantung Eropa, Brussel memiliki 159 embassies dan sekitar 2500 diplomat yang menempati ranking ke dua di dunia dengan representasi diplomatik tertinggi. Kota ini juga mempertahankan tradisi kosmopolitannya oleh karena sepertiga dari penduduk kotanya adalah warga asing.


Menyusuri indahnya kota Brussel, tentu saja sasaran kami adalah obyek-obyek yang menarik. Incaran pertama kami kali ini adalah monument Heysel Atomium yang terletak di Boulevard du Centenaire 1020, Brussels. Jika kota paris dikenal dengan Tour Eiffel-nya, Copenhagen dengan Mermaid, maka Brussel pun dikenal dengan Monument Atomium ini. Dengan diarsiteki oleh André Waterkeyn, bangunan setinggi 102 meter ini menghabiskan bahan dasar alumunium seberat 2400 ton. Bangunan ini adalah representasi visual dari konsep 9 atom crystal yang merepresentasikan industry logam dan Iron di Belgia. Pagi itu temperature udara masih sangat dingin dengan kisaran -2 - 0°C meski sang mentari sedikit bercahaya di balik awan kelabu, sementara hamparan salju putih masih melapisi jalanan sepanjang kota. Meskipun demikian derap langkah tim tour kami tetap gagah dengan alas kaki yang telah basah kuyup. Jemari tangan dan kakipun mulai kaku, karena distribusi darah ke seluruh anggota tubuh yang tak lagi merata oleh karena suhu udara yang semakin anjlok.


Masuk keluar stasiun metro dengan selingan lagu-lagu dari sound system yang sedikit menghibur (emang unik kan ??..huehehe.....), tanpa bau pesing dan gelandangan sebagaimana yang kita temui di kota Paris dan Marseille membuat suasana perjalanan kami semakin nyaman. Kini perjalanan kami teruskan ke patung Manneken Piss. Sesuai dengan namanya, patung ini menggambarkan seorang anak kecil yang sedang kencing. Sekilas terlihat sangat lucu dan mungkin tak berarti apa-apa, tapi kira-kira adakah cerita spesial dibalik patung yang telah menarik perhatian para touris yang berdatangan dari segala penjuru dunia ini ? Baiklah, ada beberapa versi legenda dibalik patung mungil ini, mungkin di antaranya yang bisa kuceritakan adalah sebagai berikut ; konon pada abad pertengahan hidup seoraang penyihir wanita tua di rumah di mana sekarang patung tersebut berada. Ketika sang penyihir hendak keluar rumah, berpapasan lah si penyihir dengan seorang bocah yang mengencinginya (huuh..bocah tidak sopan !.....). Karena murkanya si penyihir maka si bocah pun dikutuk menjadi patung. Sedangkan cerita yang lain menyebutkan bahwa, konon seorang ayah yang sedang mencari anaknya yang hilang. Ketika bertemu anaknya tepat di lokasi di mana sekarang berdiri patung ini, anaknya sedang kencing. Oleh karena itu sang ayah membangun patung ini sebagai kenangan terhadap putranya yang meninggal setelah beberapa hari ditemukan. Oleh karena kesimpang siuran cerita dibalik patung ini, salah satu situs menyebutkan bahwa jika ada yang menemukan cerita versi terbaru silahkan diajukan ke dinas pariwisata setempat..(anda memiliki cerita versi terbaru ???........silahkan menghubungi saya....)..