Nom du blog :
anakkampongkong
Description du blog :
Catégorie :
Blog Rencontres
Date de création :
05.02.2012
Dernière mise à jour :
06.02.2012
Accueil
Gérer mon blog
Créer un blog
Livre d'or anakkampongkong
Contactez-moi !
Faites passer mon Blog !
Musim dingin tahun ini nampaknya jauh lebih dingin dari tahun sebelumnya. Hampir sebagian besar area di seantero Eropa diselubungi salju. Pagi itu temperatur kota Paris berada pada 2°C di bawah titik 0, gerimis dibalik jendela pun terlihat meneteskan butiran-butiran putih lembut dan halus di balik pendar cahaya lampu jalan. Kulihat jarum jam yang berada tepat di depan ku menunjukkan pukul 04.30, tak biasanya aku bangun sepagi ini, apa lagi saat liburan. Tubuhku yang menyusut dibalik selimut tebal pun segera bangkit dan mempersiapkan segala sesuatu karena jadwal keberangkatan kereta dari Paris menuju Cologne, Jerman pukul 06.28. Dengan sarapan sepotong kebab sisa makan malamku akupun bergegas meninggalkan hotel tempat aku menginap, tak jauh dari Gare du Nord (stasiun kereta), hanya dengan menumpang bus kota yang cukup nyaman, 15 menit kemudian aku telah tiba di ruang tunggu.
Tubuh mungilku yang dibaluti jaket hitam tebal, sarung tangan kulit serta syal yang terikat dileher, sama sekali tak mebawa efek yang signifikan terhadap suhu udara yang sangat tidak bersahabat. Para calon penumpang yang berada di ruang tunggu berusaha untuk mendekati pemanas ruangan demi menghangatkan tubuh mereka. Bagian luar jaket dan kupluk yg menutupi kepalaku pun basah karena tetesan salju, aku pun menyusup di antara kerumanan orang-orang yang berasal dari berbagai suku bangsa dengan bahasa-bahasa yang sama sekali tak aku pahami, semuanya memiliki satu tujuan yaitu menghabiskan waktu liburan.
Keberangakatan kami untuk tour ke 4 kota selama liburan natal di Eropa ini terdiri dari tujuh orang, semuanya adalah pelajar asal Indonésia. Sambil menghangatkan tubuh di sela-sela calon penumpang lain, aku pun dikagetkan dengan kehadiran 6 orang rekan lainnya yang ku tunggu. Setelah berbincang-bincang sebentar, suara petugas dalam beberapa bahasa (Prancis, Inggris, Jerman dan Italia) pun terdengar dari mikrofon yang menyebutkan bahwa kereta TGV yang kami tunggu telah tiba. Setelah memvalidasi tiket kamipun bergegas menuju kereta yang akan membawa kami ke kota Cologne, Jerman. Cuaca sepanjang perjalanan semakin dingin membeku. Dari balik jendela terlihat salju putih tebal menyelimuti sapanjang jalan, rumah, gedung dan kendaraan. Kabut tebal pun menyelubungi langit. Cakrawala nampak gelap dan pekat memadamkan sang surya yang mulai terbit di garis horizon bumi.
Setelah melewati beberapa kota kecil di jerman, perjalanan tiga jam pun telah mengantarkan kami di kota Cologne. Begitu keluar dari stasiun kereta, nuansa Jerman pun mulai terasa dengan percakapan bahasa jerman yang sangat asing di kuping ku pun terdengar di mana-mana. Meskipun demikian hampir semua orang bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar, tidak seperti di Prancis.
Setelah berdiskusi sebentar dengan tim tour kami untuk menentukan objek-objek yang akan dikunjungi, kami pun menuju Office the Tourisme. Di sana kami mendapat petunjuk dari peta kota Cologne yang dilengkapi dengan tempat-tempat wisata yang mudah diakses. Mengingat kami semua adalah mahasiswa dengan isi kantung yang pas-pasan, akhirnya kami memilih untuk menuju tempat-tempat yang bisa dikunjungi tanpa mengeluarkan duit. Selain itu juga keberadaan kami di kota ini hanya sekitar 6 jam, karena perjalanan kami masih panjang menuju dua kota di dua negara yang berbeda lainnya.
Kota Cologne juga disebut sebagai kota tua yang terletak di sisi barat Federasi Jerman. Setelah mengalami kehancuran total selama berkecamuknya perang dunia ke –II, rekonstruksinya dimulai pada tahun 1950an. Meskipun demikian keaslian dari beberapa bangunan bersejarah masih tetap terpelihara. Sejarah kota ini menyebutkan bahwa Cologne pernah berada di bawah kekuasaan Prancis, karena menurut persetujuan Lunnéville (1801), bahwa semua wilayah Holy Roman Empire yang berada di sisi kiri sungai Rhine secara resmi berada dalam kekuasaan Republik Prancis.
Salah satu objek wisata yang menjadi landmark kota Cologne adalah adalah gereja tua Ghotic yang kami kunjungi, dengan arsitektur yang menakjubkan, gereja ini dibangun pada tahun 1248. Sebagai cerminan warisan dunia, bangunan tua ini juga menyimpan beraneka ragam benda-benda bersejarah peninggalan kebudayaan Roma. Selain gereja Ghotic ini masih ada selusin gereja lainnya antara lain St. Gereon, St Maria Lisykirchen yang juga baru direkonstruksi di tahun 1990an setelah mengalami kehancuran yang dahsyat akibat perang. Perlu diketahui pula bahwa universitas terbesar di Jerman pun berada di kota ini, yaitu Cologne University dengan jumlah mahasiswa pada tahun 2005 tercatat sekitar 44.000.
Dengan durasi waktu yang singkat tersebut kami menyempatkan diri mengunjungi jembatan yang melintasi sungai Rhine yang berada tepat di belakang Cathedral Cologne. Ada hal yang sempat mencuri perhatian pengunjung di atas jembatan sungai ini. Di tangan jembatan tersebut berderet ribuan selot yang telah terkunci di mana pada setiap selot tertulis nama pasangan yang menikah. Menurut masyarakat setempat mereka percaya bahwa setiap pernikahan akan kekal abadi jika sang mempelai mengunci selotnya pada kerangka besi yang diletakkan di tangan jembatan dan kuncinya dibuang ke sungai. Ritual ini dilakukan sebagai symbol dari keeratan hubungan sang penganten.
Setelah melalui sesi pemotretan dengan berbagai macam gaya di tepian sungai Rhine, kamipun menuju ke museum Ludwig yang menyimpan berbagai macam karya seni modern antara lain Koleksi hasil karya seni kontemporer dari Piter dan Irene Ludwig. Sayang sekali, karena waktu yang begitu singkat kami tak sempat mengunjungi dua botanical garden yaitu Flora und Botanischer Garten Köln dan Forstbotanischer Garten Köln. Pada hal ingin sekali kubanding-bandingkan dengan kebun raya kita di Bogor. Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 15.00 saat kami bersiap-siap untuk menuju stasiun kereta melanjutkan perjalanan kami menuju kota Brussel. Tentu saja kunjungan terakhir kami adalah kios tempat penjualan souvenir khas daerah setempat. Di sini kami berpisah dengan Dua teman lainnya yang bermalam di kota Cologne. À très bientôt, ninil et nisa !